Kuliah Umum di Polsri Kampus Banyuasin: Kepala BPS Banyuasin Paparkan Perbedaan Metodologi Penghitungan Kemiskinan

RTBP POLSRI Sebagai bentuk komitmen Politeknik Negeri Sriwijaya
(Polsri) dalam menghadirkan kegiatan akademik yang memperkaya wawasan mahasiswa
dan sivitas akademika, sebuah kuliah umum yang bertajuk “Perspektif Kemiskinan:
Perbedaan Metodologi BPS dan Bank Dunia” sukses diselenggarakan di Ruang Aula
Polsri Kampus Banyuasin pada tanggal 14 Juli 2025. Acara ini menghadirkan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyuasin, Bapak Basuki Rahmat,
sebagai narasumber utama yang memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika
penghitungan kemiskinan di Indonesia dan dunia.
Kuliah umum tersebut dihadiri oleh peserta, terdiri dari dosen,
mahasiswa dari berbagai jurusan, serta unsur pimpinan kampus. Dalam suasana
diskusi yang interaktif, Basuki membuka paparan dengan menjelaskan bahwa
kemiskinan bukanlah sekadar angka, melainkan refleksi kompleks dari kondisi
sosial, ekonomi, dan akses terhadap kebutuhan dasar. Kemiskinan adalah
fenomena multidimensional, dan cara kita mengukurnya akan menentukan arah
kebijakan.
Menurut data terbaru BPS, garis kemiskinan nasional berada pada angka
Rp595.243 per kapita per bulan. Pendekatan yang digunakan adalah basic needs
approach, yakni pendekatan kebutuhan dasar yang memperhitungkan kemampuan
penduduk untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa makanan maupun nonmakanan.
Basuki menegaskan bahwa pendekatan ini telah digunakan secara konsisten sejak
tahun 1998 untuk menjamin keberlanjutan dan validitas data dalam jangka
panjang.
Sebaliknya, Bank Dunia menggunakan pendekatan Purchasing
Power Parity (PPP), dengan garis kemiskinan sebesar US$8,30 per orang per hari
(Purchasing Power Parity / PPP) bagi negara berpenghasilan menengah.
“Kita tidak bisa melihat angka kemiskinan dari satu perspektif global
dan langsung menganggapnya sebagai krisis. Konteks nasional dan lokal sangat
penting dalam membaca data,” tegas Basuki sambil mengajak peserta untuk kritis
terhadap narasi statistik.
Tak hanya membahas teori, Basuki juga menyampaikan strategi konkret yang
dapat diterapkan dalam pengentasan kemiskinan. Di antaranya adalah penguatan
sistem pendidikan yang inklusif, peningkatan perlindungan sosial untuk kelompok
rentan, pembenahan akses layanan dasar seperti air bersih dan sanitasi, serta
mendorong mobilitas sosial antar generasi. Kuliah umum ini bukan hanya
sekadar pemaparan teknis, tetapi juga menjadi forum edukatif yang memperkuat
peran perguruan tinggi dalam literasi statistik dan pembangunan berbasis data.
Acara ini juga menjadi momentum bagi BPS untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya kontribusi kampus dalam mendukung Sensus Ekonomi 2026. Basuki menyerukan partisipasi aktif seluruh elemen kampus dalam menyukseskan program tersebut sebagai dasar perencanaan pembangunan berbasis data. Polsri memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang sadar data. Sensus bukan sekadar pengumpulan informasi, melainkan fondasi kebijakan yang akan kita wariskan. Dengan ini, Politeknik Negeri Sriwijaya menegaskan posisinya sebagai kampus yang tidak hanya fokus pada pembelajaran vokasi, tetapi juga aktif dalam membangun diskursus publik dan mendukung kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan statistik.
0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Balasan